Topik
ini pernah diangkat oleh harian KOMPAS dalam event Dialog Budaya di Jakarta.
Latar belakangnya adalah, banyaknya “KISRUH” yang muncul di kalangan elit maupun
di kalangan grassroot (akar rumput). SLENCO dalam MIND MANAGEMENT lebih akrab dengan
sebutan “MISMATCHING” alias selalu TIDAK KLOP.
Bayangkan
kalau anda ketemu teman, keluarga, tetangga yang selalu SLENCO, tidak pernah
matching. Hari Valentine yang seharusnya dimaknai sebagai hari kasih sayang,
malah diwarnai dengan perang mulut. Kalau di jalan raya anda memberi klakson
untuk mengingatkan mobil di depan anda, tahu-tahu mobil di depan anda malah
mengumpat-umpat penuh kemarahan. Seorang istri yang niatnya memperhatikan suami
pulang dari kerja, malah dibalas dengan kemarahan karena dianggap
“menginterogasi” urusan suami.
MISMATCHING
adalah bentuk pola pikir yang memiliki kecenderungan untuk tidak selaras dalam
memberikan respons dalam KOMUNIKASI. MISMATCHING bisa terjadi karena perbedaan
tingkat pendidikan, sehingga kerangka REFERENSI DAN PENGALAMANNYA berbeda. Yang
kedua bisa jadi karena STRATA SOSIAL EKONOMINYA yang berbeda. Dan yang terakhir
adalah karena POLA PIKIR Seseorang yang memiliki keinginan untuk mencari
kelemahan dan kesalahan orang lain.
Persoalan
yang terberat adalah yang ketiga yaitu POLA PIKIR, karena upaya penyesuaian
dengan lawan bicaranya lebih sulit ketimbang sebab perbedaan pendidikan atau
strata sosial ekonomi. POLA PIKIR SLENCO lebih disebabkan karena buruknya HARGA
DIRI seseorang, sehingga ia merasa perlu mencari KELEMAHAN DAN KESALAHAN orang
lain untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia cukup HEBAT. Dengan MELEMAHKAN
orang lain, ia merasa menjadi KUAT.
SLENCO
harus kita minimalkan, baik dalam lingkip keluarga,lingkup tetangga dan lingkup
pekerjaan. SLENCO membuat kinerja kita menjadi lemah, karena dasar penilaiannya
tidaklah obyektif. SLENCO membuat KERUKUNAN kita juga akan melemah, karena
orang yang berpola slenco akan selalu memancing perpecahan.
PERBAIKAN
POLA PIKIR SLENCO bisa dimulai dari lingkup keluarga, yaitu membangun budaya
dialog antar anggota keluarga (Orang Tua dan Anak), dari kehidupan bertetangga
(saling tegur sapa, saling membantu), di sekolah (komunikasi dua arah antara
Guru dan Murid), hingga level di tempat kerja.
Ingat
selalu, KONFLIK tingkat apapun dimulai dari aspek kesalahan berkomunikasi dan
pola pikir. Bangun kehidupan yang nyaman dengan meminimalisasi pola pikir
SLENCO. Kurangi nafsu untuk MENCERMATI KELEMAHAN DAN KESALAHAN orang lain.
Belajar mengapresiasi apa yang dikatakan dan dilakukan orang lain adalah
belajar menjadi individu yang MATCHING.
Dengarkan terus RESTORASI MENTAL (102,8 JFM)
Sabtu 09.00-10.00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar