SLENCO !


Topik ini pernah diangkat oleh harian KOMPAS dalam event Dialog Budaya di Jakarta. Latar belakangnya adalah, banyaknya “KISRUH” yang muncul di kalangan elit maupun di kalangan grassroot (akar rumput). SLENCO dalam MIND MANAGEMENT lebih akrab dengan sebutan “MISMATCHING” alias selalu TIDAK KLOP.
Bayangkan kalau anda ketemu teman, keluarga, tetangga yang selalu SLENCO, tidak pernah matching. Hari Valentine yang seharusnya dimaknai sebagai hari kasih sayang, malah diwarnai dengan perang mulut. Kalau di jalan raya anda memberi klakson untuk mengingatkan mobil di depan anda, tahu-tahu mobil di depan anda malah mengumpat-umpat penuh kemarahan. Seorang istri yang niatnya memperhatikan suami pulang dari kerja, malah dibalas dengan kemarahan karena dianggap “menginterogasi” urusan suami.
MISMATCHING adalah bentuk pola pikir yang memiliki kecenderungan untuk tidak selaras dalam memberikan respons dalam KOMUNIKASI. MISMATCHING bisa terjadi karena perbedaan tingkat pendidikan, sehingga kerangka REFERENSI DAN PENGALAMANNYA berbeda. Yang kedua bisa jadi karena STRATA SOSIAL EKONOMINYA yang berbeda. Dan yang terakhir adalah karena POLA PIKIR Seseorang yang memiliki keinginan untuk mencari kelemahan dan kesalahan orang lain.
Persoalan yang terberat adalah yang ketiga yaitu POLA PIKIR, karena upaya penyesuaian dengan lawan bicaranya lebih sulit ketimbang sebab perbedaan pendidikan atau strata sosial ekonomi. POLA PIKIR SLENCO lebih disebabkan karena buruknya HARGA DIRI seseorang, sehingga ia merasa perlu mencari KELEMAHAN DAN KESALAHAN orang lain untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia cukup HEBAT. Dengan MELEMAHKAN orang lain, ia merasa menjadi KUAT.
SLENCO harus kita minimalkan, baik dalam lingkip keluarga,lingkup tetangga dan lingkup pekerjaan. SLENCO membuat kinerja kita menjadi lemah, karena dasar penilaiannya tidaklah obyektif. SLENCO membuat KERUKUNAN kita juga akan melemah, karena orang yang berpola slenco akan selalu memancing perpecahan.
PERBAIKAN POLA PIKIR SLENCO bisa dimulai dari lingkup keluarga, yaitu membangun budaya dialog antar anggota keluarga (Orang Tua dan Anak), dari kehidupan bertetangga (saling tegur sapa, saling membantu), di sekolah (komunikasi dua arah antara Guru dan Murid), hingga level di tempat kerja.
Ingat selalu, KONFLIK tingkat apapun dimulai dari aspek kesalahan berkomunikasi dan pola pikir. Bangun kehidupan yang nyaman dengan meminimalisasi pola pikir SLENCO. Kurangi nafsu untuk MENCERMATI KELEMAHAN DAN KESALAHAN orang lain. Belajar mengapresiasi apa yang dikatakan dan dilakukan orang lain adalah belajar menjadi individu yang MATCHING.

Dengarkan terus RESTORASI MENTAL (102,8 JFM)
Sabtu 09.00-10.00 WIB

bekamind

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram