“Istimewa” itu harganya mahal.Coba
anda pesan makanan di restoran, segala sesuatu yang dikasih embel-embel
istimewa , pasti harganya di atas rata-rata. Tahun 2012 yang lalu, ada tanggal
dan bulan istimewa,yaitu 12 – 12 – 2012. Tak mengherankan kalau berbagai kalangan
memaksakan diri untuk nikah, sunatan, melahirkan anak atau peresmian kantor
ditepatkan pada tanggal dan bulan istimewa tersebut.
“Hebat ya,Kang…Yu
Nanik, anaknya bisa lahir pas tanggal 12, bulan 12, tahun 2012,”ujar mbak Tun sambil
memperlihatkan ekspresi heran.
“Wah,kalau itu ya
memang keajaiban dari sononya.”
“Kalau ini bukan dari
sononya,Kang, tapi dari kemauannya mbak Nanik…Anaknya lahir lewat proses caesar,” Mbak Tun mencoba menjelaskan ke
Kang Kojan.
“Proses kelahiran yang
harus mbredel perut emaknya itu?”Kang
Kojan terlihat kaget.
“Iya!” Jawab Mbak Tun singkat.
“Hanya buat ngepaskan tanggal
dan bulan yang disebut orang-orang sebagai waktu istimewa itu, yu Nanik nekat
mengeluarkan biaya yang lebih mahal?” Lanjut Kang Kojan,heran.
“Iya,” mbak Tun menjawab, sambil tak kalah herannya melihat reaksi Kang
Kojan. Kini mereka berdua diam, sambil saling melemparkan tatapan kosongnya,
persis gaya-gaya pejabat yang pura-pura memikirkan nasib rakyatnya.
Hari baik, memang sudah
lazim menjadi sebuah kepercayaan di lingkungan masyarakat kita. Bahkan di
lingkungan masyarakat Jawa, untuk beli mobil saja harus uthak-athik dulu untuk memilih hari baik dan weton yang baik. Celakanya, ada juga kepercayaan kalau weton tertentu ketemu weton tertentu bisa konflik sepanjang
hayat. Orang tua Kang Kojan bahkan nyaris tidak merestui perkawinannya dengan
Mbak Tun gara-gara weton mereka berpotensi konflik. Kang Kojan wetonnya Wage, mbak Tun Pahing,
yang ketemunya ge-ing, artinya
konflik terus.
“Begitulah kalau pikiran menjadi pengendali kehidupan kita,”Kang Kojan
mulai berfilsafat.
“Opo meneh sampeyan ini…,”Mbak
Tun mulai jengkel karena omongan suaminya ini mulai sulit ditangkap. Suaminya
memang sering sok keminter, sok
berfilsafat, tetapi memang kadang-kadang apa yang dikatakannya ini ternyata
benar.
“Gini lho,Tun…Gusti Allah ini
khan tidak pernah menciptakan waktu yang buruk, semua waktu baik, karena
diciptakan oleh Sang Maha Baik. Di hadapan Sang Maha Baik itu, kita tinggal
ditanya tentang perbuatan-perbuatan kita, bukan harinya.”Kali ini Kang Kojan
mulai serius.
“Betul juga, ya Kang…”Mbak Tun manggut-manggut mulai paham.
“Yang menciptakan baik dan buruk itu pikiran.”tambah Kang Kojan mulai
berlagak pakar.
“Jadi kalau aku dulu menganggap Kang Kojan itu nggantheng, sebenarnya
hanya karena pikiranku saja ya ,Kang..”Kali ini Mbak Tun juga mulai serius
menanggapi pendapat suaminya. Mak tratab,
darah Kang Kojan tersirap, ia kaget setengah mati dengan kata-kata istrinya
ini. Dalam pikirannya, penilaian istrinya ini merendahkan martabatnya sebagai
seorang suami.
“Lho, lha selama belasan tahun menjadi istriku ini kamu enggak sadar
terhadap wajah suamimu,to?”
“Baru sekarang aku sadar,kang…” Mbak Tun menjawab, sambil terus mengamati wajah Kang Kojan. Semprul, umpat Kang Kojan dalam hati.
Ini lebih menyakitkan lagi, karena seolah-olah mbak Tun mau jadi istrinya ini
dalam keadaan khilaf alias tidak sadar. Kini wajahnya mulai memerah, mulai
bergolak amarahnya dari dalam pikirannya.
“Kamu serius,Tun…?”suara Kang Kojan dalam.
“Ya serius,to Kang..”Mbak Tun menjawab ringan.
“Jadi selama ini kamu hanya berpura-pura cinta,gitu?” sahut Kang Kojan
dengan suara tinggi.
“Ya enggak,to! Kalau
cinta, itu benar-benar total,Kang. Mosok pura-pura cinta bisa melahirkan
Pekerti…Kang Kojan ini mbok ya yang rasional!” Mbak Tun mencoba menjelaskan
jawabanya.
“Lha tadi kamu bilang,
bahwa kamu sekarang baru sadar, kalau wajahku tidak ngganteng alias amburadul….Ini
sama dengan kamu ingin mengatakan bahwa kamu mau jadi istriku karena khilaf…iya
to?”balas Kang Kojann sambil berkacak pinggang.
“Ini yang namanya iso ngomong ora isa nglakoni, bisa
ngomong tapi tidak bisa melakukan!”
“Maksudmu..?”
“Tadi Kang Kojan khan
bilang, soal baik buruk, itu letaknya di pikiran…”
“Terus?”Kejar Kang
Kojan.
“Lha kok baru dibilang
berwajah jelek aja sudah marah kayak gitu. Jadi sampeyan termasuk suami yang
mengendalikan pikiran atau dikendalikan pikiran,to Kang?”Tanya mbak Tun tenang.
Kang Kojan diam. Ia baru menyadari, istrinya ini ternyata bukan hanya cantik,
tetapi juga pinter.Ia menunduk malu. Ia sadar bahwa selama ini ia memang tahu banyak
soal kebaikan, tetapi hanya sedikit kebaikan yang ia lakukan. Ia bingung
bagaimana menjawab pertanyaan istrinya ini.
“Paaak….ini ada bancakan dari bulik Nanik,”tiba-tiba
Pekerti masuk sambil membawa dos berisi nasi kenduri. Kang Kojan merasa
terselamatkan dengan hadirnya Pekerti secara tiba-tiba. Maka buru-buru ia
menanggapi kata-kata Pekerti tadi,
“Kenduri apa,le?”
“Bulik Nanik
melahirkan anaknya pas tanggal 12, bulan 12, tahun 2012, sangar to pak….”
“Wah luar biasa…bisa
melahirkan di hari , bulan, dan tahun yang istimewa,”balas Kang Kojan.
“Ooo…jadi, hari yang
istimewa itu ada ya,Kang?” sindir mbak Tun, sambil tersenyum kecil.
“Maksudku semua hari itu istimewa,Tun,”balas Kang Kojan
berargumen,lemah. Mbak Tun tahu betul gaya suaminya kalau mengakui
kesalahannya. Suaminya ini tidak mau keluar kata-kata pengakuan, tapi sikapnya
yang melemah sudah menandakan ia mengakui kesalahannya. Akhirnya mereka bertiga
duduk di meja makan, tapi Kang Kojan sudah menyadari kekhilafannya sendiri. Ia
tahu, ia harus belajar eling, selalu
bisa menjaga kesadaran dirinya, ketika berkata-kata ia harus ingat
perbuatannya, dan ketika melakukan perberbuatannya ia harus ingat kata-katanya.
Ah,12-12-2012
jadi hari penanda kesadaran diri Kang Kojan.Istimewa juga,ya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar