Sidang Juri di samping WC Umum

            Mata Kang Kojan terbelalak saat melihat lokasi lomba kuliner, dimana ia diminta untuk jadi jurinya. Karena bukan hanya tempatnya yang terbuka, tetapi di depannya terlihat deretan kambing –kambing yang dilombakan.
“Lho, ini lomba kuliner apa lomba kambing, ta, bu?” Tanya Kang Kojan ke panitia yg menyambutnya di tempat parkir. Bu Amri, ketua panitianya cuma nyengir, dikira ini pertanyaan guyonan.
“Saya serius, bu…” lanjut Kojan sedikit jengkel.
“Mosok saya mengundang bapak hanya untuk njuri lomba kambing.”
“Lho lha ini kambing-kambing ini dipajang di sini buat apa?” kejar Kojan.
“Buat lomba, pak.”
“Lha terus lomba kulinernya dimana?”
“Di samping lokasi lomba kambing ini, pak!”
Kang Kojan nratap, kaget setengah mati. Seperti biasanya, pikirannya langsung bereaksi keras. Ini panitia gila, bagaimana mungkin lomba kuliner dipenuhi oleh bau kambing dan kotorannya. Bagaimana mungkin seorang Kojan, yang kondang sebagai juri berbagai lomba ini mencicipi makanan dengan bau kotoran kambing. Semprul ! Kojan misuh-misuh dalam hati.
“Bu Amri serius?”
“Maksud pak Kojan?”
“Maksud saya, lokasi Lomba kuliner ini nanti di samping lokasi lomba kambing ini?”
“Ya, serius, dong pak….Saya ini ketua PKK, lho pak. Mosok saya mencla mencle.”
            Dan benar…sampai di sebelah lokasi lomba kambing, nampak ibu-ibu memajang aneka makanan. Beberapa juri yang sudah datang duluan, kelihatan sibuk mencicipi dan menanyai peserta lomba. Mbak Tun tahu betul sikap Kang Kojan kalau jengkel. Ia berusaha menenangkan suaminya, dengan menunjukkan beberapa makanan kesukaan Kang Kojan.
“Itu ada kacang telur kesukaanmu, Kang!”
Tapi kata penenang mbak Tun justru membuat Kang Kojan semakin mual. Yang ada di benaknya bukan kacang telor tetapi srinthil wedus (kotoran kambing).
“Nanti sidang dewan juri dimana, bu?”Tanya Kang Kojan serius kepada Bu Amri.
“Ya di sini aja,pak, “Jawab Bu Amri ringan.
“Lho enggak ada ruangan khusus? Sidang juri khan peserta tidak boleh dengar,bu..!”
“Wah, di sini enggak ada ruangan khusus, je…Gimana ya, pak? ”Kali ini bu Amri yang bingung.
Kejengkelan Kang Kojan makin membuncah. Ia geregetan sekali dengan Bu Amri, yang nampak pede, walau persiapannya kacau balau. Kebiasaan Kang Kojan kalau ngempet marah, ia langsung kebelet pengin kencing. Serangan biologis ini pun akhirnya muncul juga.
“Lha kalau toiletnya dimana?”
“Kami memang tidak siapkan toilet,pak.” Jawab Bu Amri, masih dengan ke-pede-annya.
“Lha ini saya kebelet pipis,je..,terus gimana dong,” Balas Kang Kojan dengan ekspresi orang kebelet, baik anak kecil yang merengek ke ibunya.
“Ada, tapi di bawah tribune GOR sebelah, pak…di situ ada WC umum,”Lagi-lagi Bu Amri tetap pede, tetap dengan gaya bahasa tubuh sebagai ketua panitia. Kali ini Kang Kojan manut alias nurut apa yang dianjurkan ibu ketua panitia ini. Dengan sedikit jalan cepat ia langsung menuju lokasi yang ditunjukkan Bu Amri. Begitu melepas hasrat buang air kecilnya, Kang Kojan langsung memberikan ide jeniusnya kepada Bu Amri.
“Kalau gitu, juri nanti sidang di samping WC umum itu saja. Tempatnya teduh, jauh dari keriuhan peserta dan penonton lomba.”
“Tapi mosok sidang dewan juri di tempat begitu…?”Bu Amri menunjukan ekspresi ragu.
“Ada tempat yang lebih teduh dari tempat ini?” Kang Kojan balik bertanya. Bu Amri menggeleng pelan. Akhirnya bu Amri mengikuti kemauan Kang Kojan.
 Setelah seluruh juri selesai menilai, mereka dikumpulkan di samping WC Umum tersebut. Juri yang mewakili kalangan perhotelan, Cik Yun, langsung protes kepada Bu Amri.
“Enggak ada tempat yang lebih bau dari tempat ini, Bu Amri?” sindirnya.
“Tunggu dulu, tempat seperti apa yang dibutuhkan buat kita bersidang?” Kang Kojan ganti bertanya. Ibu-ibu juri ini saling pandang, sedikit bingung menjawab pertanyaan Kang Kojan.
“Ya yang nyaman, yang tidak bisa didengar dan tidak bisa diintip oleh peserta!” sahut bu Mas’ud, ketua PKK.
“Nah, ibu-ibu…siapa kira-kira diantara ibu-ibu yang nekat, bernafsu ngintip atau dengerin suara orang yang sedang buang air?” Kang Kojan menimpali. Dewan juri yang terdiri dari ibu-ibu terpandang di kabupaten itu diam, mengangguk. Kali ini mereka tidak bisa membantah “pilihan tempat” Kang Kojan ini.
            Beberapa saat setelah nilai-nilai dikumpulkan, panitia pelaksana heran melihat daftar nilai Kang Kojan sama semua. Kali ini Cik Yun, Bu Mas’ud, dan Bu Amri merasa punya peluang buat menghajar Kang Kojan.
“Bapak ini tadi menilai apa enggak sich?”gerutu Cik Yun.
“Bapak sebagai ketua dewan juri harus professional, dong…,”tambah Bu Amri.
Kang Kojan tetap saja tersenyum cengengesan menanggapi protes ibu-ibu ini.
“Apa modal utama seorang juri memberikan penilaian?” Tanya Kang Kojan.
“Jujur dan obyektif!” tukas bu Mas’ud.
“Artinya?”Tanya Kang Kojan lagi.
“Ya, yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kalau enak,ya nilainya tinggi, kalau enggak enak ya nilainya rendah!” Jawab bu Mas’ud ketus.
“Lha kalau saya merasakan semua rasanya sama gimana? Apa nilainya harus saya paksakan beda?”
“Ya enggak mungkin to,pak Kojaaan..mosok semuanya sama,” Cik Yun nimbrung mulai jengkel.
“Mbok dijelaskan yang jelas,pak Kojan,”Kali ini bu Amri memohon.
“Ibu-ibu…saya merasakan semua makanan yang disajikan tadi, semua rasa makanannya kalah dengan aroma srinthil wedhus…,” Papar Kang Kojan masih dengan tersenyum santai. Wajah bu Amri memerah, karena memang di lokasi lomba kuliner ini hanya dipenuhi oleh aroma kotoran kambing alias srinthil wedus tadi. Kini giliran ibu-ibu juri tadi tertawa terbahak-bahak.
“Betul pak Kojan, Saya tadi juga merasakan hal yang sama!” bu Mas’ud mulai jujur.
“Haiya…kalau jujur beneran, ya rasanya memang serasa srinthil wedhus…”Cik Yun menimpali.
“ Jadi,ibu-ibu tadi menilainya tidak dengan jujur,ya? Tanya Kang Kojan dengan nada canda.
“ Ya kita khan enggak enak sama bu Amri. Beliau ini khan kepercayaannya pak bupati..Kalau sampai kita menilai apa adanya, nama bu Amri di hadapan pak Bupati bisa hancur,pak,” Jawab bu Mas’ud, dengan wajah serius.
“Lho kita ini mau memberi nilai buat para peserta lomba kuliner ,apa menambahi nilai buat bu Amri?” Balas Kang Kojan tak kalah seriusnya.
“ Ya sudah…apapun ,nilai-nilai ini harus dipertanggungjawabkan kepada peserta. Kita bekerja keras disini bukan untuk pak bupati atau bu Amri, tetapi untuk ibu-ibu yang telah bekerja keras membuat aneka makanan tadi,” Kang Kojan kembali bergaya bijak di tengah-tengah ibu-ibu yang labil ini.
“Bau kotoran kambing tadi adalah nilai-nilai yang saya berikan bagi siapapun yang bernafsu ingin mendapatkan nilai bagus dengan mengabaikan kepentingan sesamanya, termasuk para peserta, para pengunjung bazaar ini, dan kita para dewan juri ini,”mulut Kang Kojan mulai usil, berlagak kritikus.
“Maafkan saya ,pak Kojan,” Bu Amri langsung mengulurkan tangannya.
“Enggak perlu minta maaf ke saya, bu…Ingin terlihat hebat, ingin terlihat terhormat, ingin terlihat paling menonjol, semua rasanya sama: persis srinthil wedhus, aromanya menyengat dan tidak enak untuk dihirup,” Jawab Kang Kojan. Bu Amri tersenyum menyadari kekhilafannya. Ketika bahasa tubuh Kang Kojan mulai kemaki, mbak Tun buru-buru mendekat ke suaminya sambil membawa satu bungkus snack makanan.
 “Kang, ini tadi ada titipan dari bu Amri.”
“Lho,kok repot-repot to bu…”Kang Kojan mulai basa-basi.
“Enggak kok,pak…ini buatan ibu-ibu PKK, di kampung yang saya bina. Cuma karena masih binaan, nggorengnya terlalu gosong!”Jawab bu Amri tenang.
“Gorengan apa to ini?”Kang Kojan penasaran.
“Kacang telor,pak..”

Mata Kang Kojan terbelalak melihat kacang bulat-bulat yang warnanya campuran antara coklat dan hitam. Walaaaaah….srinthil wedhus lagi!

bekamind

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram