Semua Sopir Jelek!

            Yang namanya kenduri di rumah orang kaya, biasanya banyak yang krasan, alias tidak buru-buru pulang setelah semua prosesinya selesai. Di samping tempatnya yang nyaman, banyak orang yang ingin lebih dekat dengan si orang kaya, siapa tahu bisa kecipratan rejeki yang tak terkira. Demikianpun ketika kenduri di rumah pak Pandhu, juragan pemilik perusahaan pertambangan,tetangga dekat kang Kojan. Banyak orang-orang kampung masih belum juga meninggalkan tempat. Maka biar tidak kelihatan ndeso, Kang Kojan segera pamit ke yang empunya gawe ini.
“Sebentar,Kang,jangan pulang dulu…Saya pengin minta pertimbangan sampeyan,”Pak Pandhu berusaha menahan Kang Kojan, yang terlihat buru-buru mau pulang. Orang-orang yang masih duduk terlihat heran dan curiga melihat seorang manusia yang bernama Kojan, dimintai pertimbangan oleh seorang juragan besar.
“Wah, ada proyek ni,Kang…,”sahut Kang Kerto,pensiuanan pegawai di dinas perdagangan.
“Rejeki nomplok, boss……….,”timpal irul, ketua keamanan kampung.
            Kang Kojan tersenyum kecil. Ia paham terhadap resiko jadi orang kecil dan agak miskin. Setiap kali dimintai pertolongan oleh orang yang berkuasa atau kaya, selalu diidentikan akan menerima upah, sehingga selalu menjadi bahan gunjingan atau merangsang keirian bagi orang miskin yang lainnya. Tapi ketika melihat bu Pandhunya juga ikut duduk di samping suaminya, kang Kojan tahu bahwa suami istri ini betul-betul membutuhkan pertimbangannya.
“Kang, sampeyan punya kenalan sopir?” Pak Pandhu membuka pembicaraan.
“Ya,kalau kenalan banyak,pak. Kenapa?”
“Kami ini nyari sopir enggak pernah kebeneran, selalu kacau!”bu Pandhu nimbrung.
“Sopir yang pertama, orangnya jujur,perilakunya baik, tapi ketrampilan menyopirnya bikin jantung mau lepas,”tambah pak Pandhu.
“Sopir kedua, nyopirnya terampil,menyenangkan dan bikin nyaman…tapi sedikit-sedikit minta bonus tambahan.Yang ini membuat jantung tenang, tetapi membuat kantong ngos-ngosan,”tambah bu Pandhu tak mau kalah.
“Terus ibu pecat?” Kang Kojan mulai menyelidik.
Lha ya jelas,to Kang….mosok bayaran sopir sama dengan bayaran manajer!”Jawab bu Pandhu.
Kang Kojan menatap bu Pandhu dengan dalam, sehingga membuat wanita setengah baya ini salah tingkah.
“Ada apa,Kang?”Tanya bu Pandhu menyelidik.
“Saya paham…wanita paling sensitif soal itung-itungan atau kalkulasi uang.” Jawab kang Kojan dengan santai sambil sedikit mesem.
“Ya enggak semua wanita gitu, kang..aku ini nrimo, berapapun uang bulanan yang diberikan suamiku, selalu aku syukuri,”timpal bu Karni, yang terlihat tersinggung dengan pernyataan Kang Kojan. Kali ini ia tidak tega untuk mendebat wanita yang suaminya bekerja sebagai kuli angkat junjung di stasiun kereta api. Nrimo dalam budaya jawa diartikan sebagai keiklasan menerima apa yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Tapi nrimo yang dijelaskan bu Karni sebenarnya bukan keiklasan, karena ia sadar tidak mungkin menuntut jatah bulanan seperti bu Pandhu, ini nrimo yang kepepet.
“ya sudah, kita jangan ngelantur soal sifat itungan dari kaum wanita, tapi kita kembali bicara soal kebutuhan sopir dari bu Pandhu tadi,”balas kang Kojan tenang.
“Yang ketiga juga menjengkelkan,Kang…Ketrampilanya oke, upahnya juga masih wajar, tapi kalau soal makanan kemaruknya bukan main!”lanjut bu Pandhu.
Kemaruk?”
“Iya,kemaruk, maunya makan sebanyak-banyaknya. Kalau mampir di restoran besar, mosok milih menunya sama dengan pak Pandhu. Yang lebih parah lagi, takarannya dua kali lipatnya pak Pandhu,”bu Pandhu menjelaskan dengan penuh kejengkelan.
“Akhirnya dipecat juga?”
“Ya jelas,to Kang,”Jawab pak Pandhu singkat.
“Berikutnya….?”Tanya Kang Kojan lagi.
“Ya sekarang kami tidak punya sopir pribadi. Kang Kojan punya referensi?”sahut bu Pandhu melemah.Di wajahnya terlihat ekspresi harapan yang besar terhadap Kang Kojan, sosok lelaki yang dipercaya oleh warga di kampungnya sering bisa memberikan solusi yang jitu.
“Ibu maunya yang seperti apa?”
“Ya yang seperti,pak Pandhu.Nyopirnya terampil, bayaranya wajar, makannya tidak kemaruk, tahu mood saya pas lagi marah atau pas lagi kelegan”Jelas bu Pandhu,sambil memandang wajah suaminya yang terlihat mengangguk-angguk.
“Oh, kalau yang itu gampang!” Jawab Kang Kojan cepat.
“Jadi Kang Kojan punya sopir yang sesuai dengan kriteria saya tadi?”Bu Pandhu terlihat anthusias.
“Punya,bu. Enggak usah nunggu lama-lama….sopir itu sekarang sudah di samping bu Pandhu.”
Seluruh warga yang masih lesehan di ruang tamunya pak Pandhu ini sontak langsung tertawa. Beberapa saat kemudian jadi diam, karena sebagian takut kalau pak pandhu dan istrinya tersinggung dan marah. Orang kaya kalau marah, lebih menakutkan daripada orang miskin yang kalap. Kang Kojan tahu jalan pikiran para tetangganya ini, kemudian ia melanjutkan lagi perkataannya.
“Bu, bahaya lho kalau ibu masih memaksakan nyari sopir yang keterampilannya, perilakunya, tutur katanya, wajahnya, makanan kesukaannya sama persis dengan pak Pandhu. Ibu pasti akan menderita. Nanti kalau ibu tidak bisa membedakan antara pak Pandhu dan si sopir gimana ?” Kang Kojan nekat mencandai. Seluruh ruangan kembali dipenuhi tawa para warga. Seluruh ruangan jadi ramai penuh guyon. Kali ini pak Pak Pandhu benar-benar mengangguk-anggukan kepalanya, tanda setuju.

“Betul juga ya,Bu…,”Sambung pak Pandhu serius. Kali ini bu Pandhu benar-benar tidak berani untuk tidak mengiyakan kata-kata suaminya ini.Resikonya terlalu besar!

bekamind

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram