Yang namanya kenduri di
rumah orang kaya, biasanya banyak yang krasan,
alias tidak buru-buru pulang setelah semua prosesinya selesai. Di samping
tempatnya yang nyaman, banyak orang yang ingin lebih dekat dengan si orang
kaya, siapa tahu bisa kecipratan rejeki yang tak terkira. Demikianpun ketika
kenduri di rumah pak Pandhu, juragan pemilik perusahaan pertambangan,tetangga
dekat kang Kojan. Banyak orang-orang kampung masih belum juga meninggalkan
tempat. Maka biar tidak kelihatan ndeso,
Kang Kojan segera pamit ke yang empunya
gawe ini.
“Sebentar,Kang,jangan pulang dulu…Saya pengin minta pertimbangan
sampeyan,”Pak Pandhu berusaha menahan Kang Kojan, yang terlihat buru-buru mau
pulang. Orang-orang yang masih duduk terlihat heran dan curiga melihat seorang
manusia yang bernama Kojan, dimintai pertimbangan oleh seorang juragan besar.
“Wah, ada proyek ni,Kang…,”sahut Kang Kerto,pensiuanan pegawai di dinas
perdagangan.
“Rejeki nomplok,
boss……….,”timpal irul, ketua keamanan kampung.
Kang Kojan tersenyum kecil. Ia paham
terhadap resiko jadi orang kecil dan agak miskin. Setiap kali dimintai
pertolongan oleh orang yang berkuasa atau kaya, selalu diidentikan akan
menerima upah, sehingga selalu menjadi bahan gunjingan atau merangsang keirian
bagi orang miskin yang lainnya. Tapi ketika melihat bu Pandhunya juga ikut
duduk di samping suaminya, kang Kojan tahu bahwa suami istri ini betul-betul
membutuhkan pertimbangannya.
“Kang, sampeyan punya kenalan sopir?” Pak Pandhu membuka pembicaraan.
“Ya,kalau kenalan banyak,pak. Kenapa?”
“Kami ini nyari sopir enggak pernah kebeneran, selalu kacau!”bu Pandhu
nimbrung.
“Sopir yang pertama, orangnya jujur,perilakunya baik, tapi ketrampilan
menyopirnya bikin jantung mau lepas,”tambah pak Pandhu.
“Sopir kedua, nyopirnya terampil,menyenangkan dan bikin nyaman…tapi
sedikit-sedikit minta bonus tambahan.Yang ini membuat jantung tenang, tetapi
membuat kantong ngos-ngosan,”tambah
bu Pandhu tak mau kalah.
“Terus ibu pecat?” Kang Kojan mulai menyelidik.
“Lha ya jelas,to Kang….mosok bayaran sopir sama dengan
bayaran manajer!”Jawab bu Pandhu.
Kang Kojan menatap bu Pandhu dengan dalam, sehingga membuat wanita
setengah baya ini salah tingkah.
“Ada apa,Kang?”Tanya bu Pandhu menyelidik.
“Saya paham…wanita paling sensitif soal itung-itungan atau kalkulasi uang.” Jawab kang Kojan dengan santai
sambil sedikit mesem.
“Ya enggak semua wanita gitu, kang..aku ini nrimo, berapapun uang
bulanan yang diberikan suamiku, selalu aku syukuri,”timpal bu Karni, yang terlihat
tersinggung dengan pernyataan Kang Kojan. Kali ini ia tidak tega untuk mendebat
wanita yang suaminya bekerja sebagai kuli angkat junjung di stasiun kereta api.
Nrimo dalam budaya jawa diartikan
sebagai keiklasan menerima apa yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Tapi nrimo yang dijelaskan bu Karni sebenarnya
bukan keiklasan, karena ia sadar tidak mungkin menuntut jatah bulanan seperti
bu Pandhu, ini nrimo yang kepepet.
“ya sudah, kita jangan ngelantur
soal sifat itungan dari kaum wanita,
tapi kita kembali bicara soal kebutuhan sopir dari bu Pandhu tadi,”balas kang
Kojan tenang.
“Yang ketiga juga menjengkelkan,Kang…Ketrampilanya oke, upahnya juga
masih wajar, tapi kalau soal makanan kemaruknya
bukan main!”lanjut bu Pandhu.
“Kemaruk?”
“Iya,kemaruk, maunya makan
sebanyak-banyaknya. Kalau mampir di restoran besar, mosok milih menunya sama
dengan pak Pandhu. Yang lebih parah lagi, takarannya dua kali lipatnya pak
Pandhu,”bu Pandhu menjelaskan dengan penuh kejengkelan.
“Akhirnya dipecat juga?”
“Ya jelas,to Kang,”Jawab pak Pandhu singkat.
“Berikutnya….?”Tanya Kang Kojan lagi.
“Ya sekarang kami tidak punya sopir pribadi. Kang Kojan punya
referensi?”sahut bu Pandhu melemah.Di wajahnya terlihat ekspresi harapan yang
besar terhadap Kang Kojan, sosok lelaki yang dipercaya oleh warga di kampungnya
sering bisa memberikan solusi yang jitu.
“Ibu maunya yang seperti apa?”
“Ya yang seperti,pak Pandhu.Nyopirnya terampil, bayaranya wajar,
makannya tidak kemaruk, tahu mood
saya pas lagi marah atau pas lagi kelegan”Jelas
bu Pandhu,sambil memandang wajah suaminya yang terlihat mengangguk-angguk.
“Oh, kalau yang itu gampang!” Jawab Kang Kojan cepat.
“Jadi Kang Kojan punya sopir yang sesuai dengan kriteria saya tadi?”Bu
Pandhu terlihat anthusias.
“Punya,bu. Enggak usah
nunggu lama-lama….sopir itu sekarang sudah di samping bu Pandhu.”
Seluruh warga yang
masih lesehan di ruang tamunya pak Pandhu ini sontak langsung tertawa. Beberapa
saat kemudian jadi diam, karena sebagian takut kalau pak pandhu dan istrinya
tersinggung dan marah. Orang kaya kalau marah, lebih
menakutkan daripada orang miskin yang kalap. Kang Kojan tahu jalan pikiran para
tetangganya ini, kemudian ia melanjutkan lagi perkataannya.
“Bu, bahaya lho kalau ibu masih memaksakan nyari sopir yang
keterampilannya, perilakunya, tutur katanya, wajahnya, makanan kesukaannya sama
persis dengan pak Pandhu. Ibu pasti akan menderita. Nanti kalau ibu tidak bisa
membedakan antara pak Pandhu dan si sopir gimana ?” Kang Kojan nekat mencandai.
Seluruh ruangan kembali dipenuhi tawa para warga. Seluruh ruangan jadi ramai
penuh guyon. Kali ini pak Pak Pandhu benar-benar mengangguk-anggukan kepalanya,
tanda setuju.
“Betul juga ya,Bu…,”Sambung pak Pandhu serius. Kali ini bu Pandhu
benar-benar tidak berani untuk tidak mengiyakan kata-kata suaminya
ini.Resikonya terlalu besar!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar