Hikmah Bocah Susah Diatur



            Bisa mbayangin, kalau anak disuruh belajar susahnya bukan main? Itulah yang sekarang sedang dialami Kang Kojan. Expresinya persis kayak petinju yang baru bangun setelah dipukul KO.  Mbak Tun , istrinya juga tidak kalah nekuk mukanya, menandakan kejengkelan yang luar biasa. Anaknya yang cuma semata wayang ini memang terkesan semaunya sendiri. Susah diatur plus kata orang Jawa kemakinya ngungkuli dewa ( lagaknya melebihi Dewa ).
Lumpia tenan, bapaknya sregep kok anaknya pemales! ”
“ Lha wong emaknya telaten, kok anaknya bosenan.” Mbak Tun nimpali keluhan suaminya ini.
            Grundelan mereka didengar oleh Lik Prie, tetangga sebelah yang lebih sabar, lebih tidak kemrungsung dalam ngemong anak. Dia hapal betul gaya Kang Kojan ini kalau pas enggak kelegan hatinya.
“Ini lho,lik…Pekerti, bocah kok disuruh belajar susahnya minta ampun!” Curhat Kang Kojan.
“Namanya anak,Jan… ya kombinasi antara kamu sama istrimu . Itu artinya, kalau kamu mencaci-maki si Pekerti anakmu, ya sama saja kamu mengumpat dirimu sendiri.”
Plak! Kata-kata Lik Prie ini langsung nampek muka Kang Kojan.
“Lho dapat kombinasi darimana, to lik? Lha wong bapaknya sregep, emaknya telaten kok anaknya pemalas. Terus nurunnya dari siapa?”
“Lha, sregepmu dan  telatennya istrimu khan baru sekarang!”Jawab Lik Prie ringan.
“Maksud Lik Prie?”
“Jaaan……kamu khan jadi sregep alias rajin setelah kamu ketemu dengan ngelmu-ngelmu yang pas dengan seleramu, betul apa nggak? Tanya Lik Prie mengingatkan. Kojan cuma diam.
Lha Istrimu jadi telaten, juga gara-gara setelah punya suami yang kemproh, jorok, dan seenaknya udele dhewe…” Lik Prie kali ini sambil sedikit mengejek.
            Ia merenungi kata-kata Lik Prie yang terkesan menohok sambil guyon itu. Ia sebenarnya pengin dilegakan dulu, tapi kali ini Lik Prie langsung menohok egonya, membuat kebiasaan ngototnya jadi tak berkutik, hingga ia hanya bungkam sambil menahan malu.
“Betul juga ya,Tun…sejelek-jeleknya Pekerti, ia adalah hasil adonan bibit kita berdua lho…”
“Iya sich, Kang..” Kali ini Mbak Tun mulai ikut melemah.
“Ya berarti kemalesannya itu niru kamu Tun…” Kang Kojan mencoba cari peluang menghindar.
“Lho,kok aku? Sampeyan tanya mbokku, sejak kecil aku ini telaten!” Mbak Tun mulai membela diri. Matanya kali ini mulai melotot, seolah siap menembus jantung Kang Kojan.
“Lha terus…?”
“ya niru sampeyan, to, Kang…. Aku khan enggak tahu masa kecil sampeyan?”
“Lho aku juga enggak tahu masa kecilmu!” Sergah Kang Kojan.
“Intinya, kalian berdua sama-sama enggak tahu masa kecil kalian,to?” Lik Prie menengahi.
Keduanya diam. Dengan gaya dibijak-bijakan, Kang Kojan mengangguk-angguk. Ini adalah kebiasaan yang sering dilakukannya saat ngobrol dengan siapapun. Bisa jadi, ia paham dengan yang diomongkan oleh lawan bicaranya, namun bisa juga ia hanya ingin melegakan orang yang sedang berbicara dengannya.
            Seperti manusia pada umumnya, dalam proses pembelajaran diri ini Kang Kojan dan Istrinya sebenarnya baru mau ketemu dengan dirinya yang asli. Wajah mereka yang sebenarnya. Diri mereka yang tanpa antribut status sosial dan kekuasaan. Tapi mereka merasa takut, jika wajah asli mereka yang muncul ternyata tidak sesuai dengan  yang mereka harapkan.
 Masa lalu adalah masa awal bagaimana manusia dibentuk oleh gen bawaan, yang dalam budaya Jawa disebut watek plus gemblengan pitutur alias penanaman nilai orang tua dan pergaulannya. Kalau masa lalu itu dicetak dengan cetakan yang benar, maka isi yang tertanam dalam wilayah bawah sadar juga akan benar. Kalau ternyata masa lalunya dicetak dengan cetakan yang salah, maka munculah watak yang salah. Jadi disamping memberikan kombinasi gen bawaan, orang tua juga memberi peneguhan melalui tutur kata dan teladan perbuatannya. Pekerti anak mereka adalah buah keteladanan perilaku mereka, dan buah turunan genetika mereka.
            Kang Kojan lalu menggamit pundak mbak Tun dan mengajaknya masuk rumah, meninggalkan Lik Prie yang masih tersenyum-senyum geli melihat ulah mereka berdua. Kang Kojan langsung menuntun mbak Tun masuk kamar. Pekerti yang duduk di ruang makan sempat heran melihat perilaku orang tuanya ini. Di dalam kamar, tiba-tiba Kang Kojan tertawa ngakak.
“Kok ketawa? Kamu ingat masa lalu kita,ya?”Mbak Tun mulai ge-er.
Hush, kita ini sudah enggak pantes mengingat yang saru-saru, yang jorok!” Sergah Kang Kojan.
“Ooo…aku tahu, sampeyan pasti baru mengingat-ingat masa lalu sampeyan sendiri,ya?”
“Bukan………..Aku juga sudah tidak ingat masa laluku. Masa lalu tidak penting! Yang penting Gusti Allah sudah menunjukkan masa lalu kita, bahwa kita pernah jadi sosok yang pemalas, yang menjengkelkan persis seperti Pekerti sekarang itu.” Papar Kang Kojan,masih dengan tertawa geli.
“Maksud,sampeyan apa?” Mbak Tun masih belum mengerti.
“Kita harus bersyukur punya anak yang menjengkelkan, atau males . Kita disadarkan Allah untuk terus terjaga dan rajin membangunkan dan memperbaiki sebagian sifat yang sudah kita turunkan pada Pekerti.”
“Jadi…”Mbak Tun masih belum terima, tapi kini mulai tidak pede lagi.
“Ada banyak cara bagi Allah dan alam semesta untuk menunjukkan wajah kita yang asli. Mana bisa wajah melihat wajahnya sendiri. Allah menyayangi kita berdua….Anak kita adalah cermin yang paling tidak bisa dimanipulasi. Itulah wajah asli kita berdua,Tun.”

bekamind

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram