KEKUATAN MELAYANI, 28 Februari 2015

Kapitalisme memang membuat seluruh pola pikir berpijak pada konstruksi “Jika saya melakukan sesuatu, Saya dapat apa?” Akibatnya, setiap kegiatan apapun selalu memiliki pola yang sama yaitu “TRANSAKSIONAL”. Orang tua meng-iming-imingi sesuatu anak supaya mau belajar. Boss memotivasi anak buah, dengan iming-iming bonus yang besar dan pangkat yang tinggi. Sampai-sampai, birokrat mau bekerja keras mau bekerja keras asal imbalannya jelas.
            Anda tahu akibat pola pikir transaksaksional ini? Orang tidak pernah menikmati hidup yang dijalani. Orang jadi malas, kalau imbalan insentifnya tidak sesuai penilaiannya. Orang selalu menderita, karena pola pikir transaksional selalu memompa nafsu untuk “untung sebanyak-banyaknya, kerja seringan-ringannya”.Lalu bagaimana membuat kita bahagia? Kita harus balik pola pikir ini.
            Jenjang pola pikir terendah adalah “saya dapat upah dulu, baru saya mau kerja”. Orang semacam ini, jarang menjadi orang besar. Pola pikir di atasnya adalah “ Saya kerja, asal dapat upah.” Kinerjanya bergantung pada besar keculnya upah. Masih sama dengan yang terendah tadi, tetapi dia memiliki posisi penawaran yang kuat karena dia punya kekuatan tertentu. Yang paling tinggi adalah pola pikir “Saya bekerja yang paling baik, saya tidak peduli upah dan apresiasinya”. Pola inilah yang disebut pola pikir melayani.
            Orang yang penyulut kekuatannya adalah melayani, secara internal memiliki rasa syukur dan anthusias yang besar, karena ia tidak terbebani upah dan apresiasi. Mata,telinga, dan rasa hanya fokus pada bagaimana ia mengerjakan sesuatu se-optimal mungkin. Ia juga tidak peduli soal dipuji atau dicaci maki, yang penting saya melakukan yang terbaik dan berguna untuk orang lain. Dari sisi eksternal, semua orang yang mengenalnya atau relasinya selalu sungkan untuk memperlakukan seenaknya.
            Kecintaan pada melayani, membuat anda sangat anthusias , karena target anda adalah membuat orang lain lebih mudah, lebih gembira, dan lebih sehat. Coba anda balik pola pikir anda menjadi :”bagaimana saya lebih mudah,lebih gembira, lebih sehat” – maka ketika anda mengalami kesulitan, mengalami kesedihan, mengalami sakit, anda akan kehilangan anthusias dalam bekerja. Anda akan cepat putus asa,marah, dan membenci kehidupan.
            Happiness is simple! Bahagia itu gampang, asal anda tidak memiliki syarat apapun untuk bahagia. Melayani, pasti tidak memiliki syarat apapun. Kalau kita melayani dengan pola pikir transaksional, pasti anda tidak melayani. Betapa dahsyatnya kekuatan melayani. Anda tidak perlu pendidikan yang tinggi, jabatan yang tinggi, kekayaan yang tinggi, sebab melayani bukan pola pikir transaksional.
            Mari memulai membangun pola pikir melayani dari lingkungan keluarga, lingkungan bertetangga, lingkungan kelurahan, hingga lingkungan bangsa. Selamat mencoba!


Dengarkan terus RESTORASI MENTAL (102,8 JFM)
Sabtu 09.00-10.00 WIB


bekamind

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram