Anda tahu akibat pola pikir
transaksaksional ini? Orang tidak pernah menikmati hidup yang dijalani. Orang
jadi malas, kalau imbalan insentifnya tidak sesuai penilaiannya. Orang selalu
menderita, karena pola pikir transaksional selalu memompa nafsu untuk “untung
sebanyak-banyaknya, kerja seringan-ringannya”.Lalu bagaimana membuat kita
bahagia? Kita harus balik pola pikir ini.
Jenjang pola pikir terendah adalah “saya dapat upah dulu, baru saya mau kerja”.
Orang semacam ini, jarang menjadi orang besar. Pola pikir di atasnya adalah “ Saya kerja, asal dapat upah.” Kinerjanya
bergantung pada besar keculnya upah. Masih sama dengan yang terendah tadi,
tetapi dia memiliki posisi penawaran yang kuat karena dia punya kekuatan
tertentu. Yang paling tinggi adalah pola pikir “Saya bekerja yang paling baik, saya tidak peduli upah dan apresiasinya”.
Pola inilah yang disebut pola pikir melayani.
Orang yang penyulut kekuatannya
adalah melayani, secara internal memiliki rasa syukur dan anthusias yang besar,
karena ia tidak terbebani upah dan apresiasi. Mata,telinga, dan rasa hanya
fokus pada bagaimana ia mengerjakan sesuatu se-optimal mungkin. Ia juga tidak
peduli soal dipuji atau dicaci maki, yang penting saya melakukan yang terbaik
dan berguna untuk orang lain. Dari sisi eksternal, semua orang yang mengenalnya
atau relasinya selalu sungkan untuk memperlakukan seenaknya.
Kecintaan pada melayani, membuat
anda sangat anthusias , karena target anda adalah membuat orang lain lebih
mudah, lebih gembira, dan lebih sehat. Coba anda balik pola pikir anda menjadi
:”bagaimana saya lebih mudah,lebih gembira, lebih sehat” – maka ketika anda
mengalami kesulitan, mengalami kesedihan, mengalami sakit, anda akan kehilangan
anthusias dalam bekerja. Anda akan cepat putus asa,marah, dan membenci
kehidupan.
Happiness is simple! Bahagia itu
gampang, asal anda tidak memiliki syarat apapun untuk bahagia. Melayani, pasti
tidak memiliki syarat apapun. Kalau kita melayani dengan pola pikir
transaksional, pasti anda tidak melayani. Betapa dahsyatnya kekuatan melayani.
Anda tidak perlu pendidikan yang tinggi, jabatan yang tinggi, kekayaan yang
tinggi, sebab melayani bukan pola pikir transaksional.
Mari memulai membangun pola pikir
melayani dari lingkungan keluarga, lingkungan bertetangga, lingkungan
kelurahan, hingga lingkungan bangsa. Selamat mencoba!
Dengarkan terus RESTORASI MENTAL (102,8 JFM)
Sabtu 09.00-10.00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar