Meskipun
hari Minggu, Kang Kojan tetap memenuhi permintaan mahasiswa di salah satu Universitas
di Semarang untuk menjadi motivator bagi UKM di kampung Ngalihan, Semarang.
Kalau yang berbau sosial begini, Kang Kojan selalu siap berkorban, asal
pengorbanannya ini diketahui orang banyak, minimal orang di kampungnya
tahu.Jadi tak mengherankan kalau pas acara begini, ia ngajak Reni, keponakan
perempuannya yang pinter motret. Pengorbanan harus didokumentasikan,kira-kira
seperti itulah prinsip sosial Kang Kojan.
Seperti
yang disampaikan oleh mahasiswa yang memintanya jadi motivator, pesertanya
adalah para UKM pembuat makanan cemilan, seperti kripik, gethuk, atau kacang
bawang. Dari 20 peserta ini, hanya 3 orang yang laki-laki yang usianya di atas 60
tahun. Sementara untuk pesertanya rata-rata di atas 50 tahun.
“Ren, ini yang
dimotivasi apanya? Usia produktif mereka khan memang sudah selesai?” bisik Kang
Kojan kepada keponakannya ketika mulai duduk di meja pembicara. Reni Cuma
nyengir, seolah tak peduli dengan kejengkelan pakliknya ini. Ponakannya ini di keluarga kang Kojan dikenal
professional soal foto memfoto, walau yang biasa ia gunakan baru kamera handphone.
“Pak Kepala Desa, pak
carik, dan pak RT…ini bapak Kojan Palgunadi..”Sambut Mahasiswa yang menjadi
ketua tim KKN di desa Ngalian ini, tapi buru-buru dipotong oleh kang Kojan.
“Ssst…yang Palgunadi
enggak usah disebut, itu bukan nama yang menjual. Sebut aja Kojan Irama,”bisik
Kang Kojan ke telinga si mahasiswa.
“Oh,maaf..ternyata
nama beliau adalah Kojan Irama,”jelas si mahasiswa. Spontan para peserta yang
sehari-hari jualan snack ini langsung
bertepuk tangan senang. Ternyata mereka mengira kang Kojan adalah adik dari
raja dhangdut di Indonesia yang akan mencalonkan sebagai presiden itu. Maka tak
mengherankan jika para peserta nampak terkesima, saat Kang Kojan mulai
berbicara.
“Jadi menurut bapak
ibu, modal apa yang paling penting untuk menjalankan usaha dagang?”Tanya Kang
Kojan kepada seluruh peserta yang sangat anthusias mendengarkan ceramahnya.
“Uaaaanggg…..!” Jawab
seluruh peserta kompak.
“Bukan,bapak ibu,bukan
uang. Untuk menjalankan usaha atau dagang, modal utamanya adalah keyakinan!”
“Wah, kalau Cuma
keyakinan thok modalnya, itu namanya ngimpiii
bang Haji,”Sanggah seorang ibu-ibu yang meski sudah pantas bercucu,tapi
dandananya masih ngejreng.
“Lho, saya ini bukan
haji,bu…maaf nama ibu siapa?”
“Saya bu
Kamil,bang…lho bukannya sampeyan ini kerabatnya Rhoma Irama?”
“Bukan,bu, cuma nama
belakangnya aja yang sama. Pekerjaan kami sama-sama berdakwah. Dakwah saya
adalah bidang ilmu pengetahuan modern. Okey, Saya akan jelaskan paparan saya
tadi. Modal utama dalam berwirausaha itu adalah mentaliti.”
“Opo kuwi mentaliti?” sela bu Kamil, benar-benar terlihat bingung.
Mendengar pertanyaan
bu Kamil ini Kang Kojan makin pede.
Ia memang meniru penceramah-penceramah sekarang. Semakin banyak peserta yang
tidak tahu, maka ia akan semakin dianggap ahli.
“Mentaliti itu adalah
daya juang,bu Kamil. Jadi kalau daya juangnya tinggi, maka modal uang pasti
akan datang dari mana-mana.”papar Kang Kojan merasa di atas angin.
“Walaah,mas…aku tetep ra’ ngandel, nggak percaya omongan
sampeyan. Enggak ada sejarahe orang
cuma modal yakin, terus usahanya maju. Ndoboz,
omong kosong. Sekali tidak percaya,tetap tidak percaya!” sambung bu Kamil
ketus.
Kang Kojan sempat
bingung menghadapi wanita yang tadinya terlihat kagum kepadanya, cuma gara-gara
tahu bahwa ia bukan kerabatnya Rhoma Irama, langsung berbalik memusuhinya.
Kojan diam sejenak, tapi tetap tersenyum. Sebagai pembicara hebat, ia tidak
boleh muntab alias menunjukkan reaksi
marahnya di hadapan peserta yang diceramahinya. Hanya beberapa detik, Kojan
telah menemukan jalan keluarnya.
“Bu Kamil…apakah ibu
tahu definisi orang Kafir?” tiba-tiba Kang Kojan membelokan pembicaraan. Bu
Kamil menggelengkan kepala, bingung mendengar pertanyaan yang tidak relevan
ini.
“Ada beberapa kategori
orang Kafir…Pertama, kelompok yang mengingkari kebenaran Allah, meski ia sudah
diberi tahu. Kedua adalah kelompok orang yang tidak mau diberi masukan tentang
kebenaran, dan hanya mengukuhi kebenarannya sendiri. Mereka inilah yang disebut
sebagai orang-orang Kafir. Ibu tahu yang
saya maksud?”tanya kang Kojan sambil menatap bu Kamil dalam-dalam. Wanita paruh
usia ini langsung mengkeret, takut.
“Ada lagi yang ingin
ibu tanyakan?”Tanya kang Kojan lagi.
“Tidak,pak. Saya
percaya,kok….,”jawab bu Kamil lirih.
Akhirnya ceramah berakhir dengan pengelu-eluan Kang Kojan sebagai
pembicara yang hebat, yang taat kepada agama, plus pinter di bidang usaha. Reni
yang tadi melihat kepiawaian Kang Kojan mematahkan perlawanan peserta ceramah,
tanpa sungka langsung tanya ke pak liknya ini, apa rahasianya.
“Agama! Kalau ingin
mempengaruhi peserta ceramah, gunakan ayat-ayat atau ajaran di agama, pasti
beres. Peserta manut – menuruti pendapat
kita, enggak neko-neko lagi!”jawab
Kojan sambil tertawa penuh kemenangan.
“Tapi itu khan enggak
bener, pak lik,”balas Reni.
“Udaah,enggak usah
dipikirin..yang penting ceramahnya sukses!”
“Lho diberi masukan
kok ngeyel…itu khan namanya Kafir
juga,pak lik..”
Kojan diam, tetap
mengelap keringat di dahinya. Dalam hati ia menghitung-hitung sendiri, sudah
berapa kali ia menggunakan agama sebagai alat untuk memasyhurkan namanya.
Selang sepuluh menit kemudian ia bilang kepada ponakannya ini, dengan suara
ragu-ragu.
“Apa honornya ini aku
kembalikan saja ya, Ren?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar