Mungkin Tuhan Sedang Tidur


            Warga di sekeliling rumah Kang Kojan geger, gara-gara mendengar khabar Pak Sur, orang yang paling saleh di kampung itu semaput alias pingsan. Yang lebih menggegerkan lagi adalah pak Sur jatuh pada saat sedang berdoa. Mata kanannya membentur lingiran alias sudut runcing lemari buku, sehingga kacamatanya pecah,dan melukai bagian dekat alisnya. Maka tak mengherankan kejadian ini menjadi bahan omongan waktu pertemuan warga di rumah Kang Bari, Ketua RT , yang bukan hanya selalu menjadi pemimpin rapat tetapi juga pemimpin gossip di kampung Kang Kojan.
“Waduuh, saya benar-benar prihatin atas kejadian yang menimpa pak Sur,”Kata Kang Bari ketika membuka rapat warga. Semua warga nampak ikut tertunduk sedih, mengapresiasi.
“Benar Kang Bari………seharusnya pak Sur tidak memforsir pekerjaannya,”sahut Irul seksi keamanan kampung, yang sehari-hari dibayar warga dengan pekerjaan rutinnya membunyikan suara dari tiang listrik setiap jam 12.00 malam. Seluruh warga benar-benar tertegun dengan sikap Kang Bari dan Pulung, yang baru kali ini kelihatan serius, tidak bergosip.
“Saya akan terus mendoakan agar pak Sur segera sembuh. Bahkan setiap malam saya akan mendoakan pak Sur…Karena sebentar lagi tujuh-belasan,”sambung Kang Bari.
“Apa hubungannya mendoakan pak Sur dengan tujuh-belasan,Kang?” Kali ini Kang Kojan bersuara.
“Sampeyan ini kok nggak peka,to Kang…,”Jawab Kang Bari.
“Aku bener-bener enggak mudheng lho,pak RT..”
“Pak Sur itu khan donatur terbesar di kampung kita,Kang,”Jawab Kang Bari serius. Tiba-tiba terdengar suara menghela nafas dari seluruh warga yang ikut rapat malam itu.
Walaaah,pak RT ini lho…tadi aku pikir ini sampeyan bener-bener berdoa secara tulus,” celethuk mas Tugi, pedagang mie ayam, yang dagangannya lagi pas kurang laku gara-gara isyu mie formalin.
“Nggak tulus gima, to Gi?”
“Kalau mendoakan cepat sembuh supaya nanti bisa ngasih sumbangan untuk tujuh belasan,itu namanya enggak tulus,”Tugi mencoba menerangkan.
“Jangan keminter,to Giiii…Yang namanya pak Sur, yang rajin berdoa dengan tulus, rajin sedekah saja, tetep saja semaput saat sedang berdoa, gimana coba?”balas pak Bari tak mau kalah. Tugi kali ini diam tidak bisa mengomentari alasan Kang Bari.
“Lha menurut pak RT gimana?” Kang Kojan menengahi ketegangan Kang Bari dan Tugi.
“Lho, katanya Gusti Allah ora sare ( Tuhan tidak tidur ), tapi kok melihat umatnya sedang berdoa, kok ya membiarkan hambaNya semaput, mbentur lingiran lemari lagi. Gimana,jal ?”Suara Kang Bari meninggi.
“Ooo…yang itu aku ngerti,Kang… saat itu Gusti Allah pas sare ( Tuhan pas sedang tidur ),”Jawab Kang Kojan santai. Seluruh warga di ruangan itu langsung tertawa. Kang Bari semakin jengkel dengan gaya Kang Kojan yang terkesan mempermainkannya itu.
Mbok ya serius sedikit,to Kang..Saya ini ketua RT,pejabat,lho kang…”Kang Bari jengkel.
“Lha yang mancing guyon khan sampeyan,to Kang..,”Balas kang Kojan.
“Lho aku serius…Mosok orang yang saleh dan rajin bersedekah, bisa kecelakaan saat berdoa khusyuk kepada Sang Pencipta, khan lucu to,Kang..”
Sampeyan itu ya lucu…Siapa yang menjamin orang yang saleh dan rajin sedekah pasti tidak bisa sakit, tidak bisa celaka, tidak bisa menjadi tua? Coba sampeyan ingat kembali..Gus Dur itu kurang baik,apa? Tapi beliau ya bisa sakit,to? Romo Mangun itu bagi orang miskin di Jogja seperti malaikat, tapi beliau juga ngalami sakit,to?,”Papar kang Kojan sedikit berceramah. Warga satu ruangan menjadi diam. Kang Bari memerah mukanya,mendengar fakta yang dipaparkan oleh Kang Kojan.
“Tidak ada yang salah dengan penyakit atau kejadian yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita. Itu adalah cara Allah memahat umatnya untuk menjadi lebih baik, lebih mulia, dan lebih kuat sehingga tidak gampang dikalahkan oleh rasa sakit,”lanjut Kang Kojan.
“Kalau begitu apa gunanya menjadi orang baik?” Kang Bari mencoba mendebat.
“Lha menurut sampeyan gunanya apa?” Kang Kojan kembali balik bertanya.
“Ya biar masuk surga, kaya dunia dan akherat! ”Jawab Kang Bari dengan pede.
“Lha kalau ternyata rejeki sampeyan seret tambah sakit-sakitan terus gimana?”tanya Kang Kojan lagi.
“Ya nggak usah jadi orang baik…”jawab Kang bari sedikit tersendat.
“Kalau gitu sampeyan ingin jadi orang baik atau ingin jadi orang Kaya?”kejar Kang Kojan.
Embuh,ah…aku nggak mau jadi apa-apa!” Jawab Kang Bari jengkel. Kembali seluruh warga tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban RTnya yang terlihat jengkel ini. Tapi Kang Kojan buru-buru menyahut lagi,
“Naaah, yang itu yang paling hebat!”
“Maksudmu?”
“Enggak usah pengin jadi orang yang kelihatan baik, cukup jadi RT seperti sekarang! Tapiii, selalu melayani warga dengan total, membantu warga yang memerlukan pertolongan,sudah itu aja, joosss!”Jawab Kang Kojan disambung dengan tawa ringan.
“Pak RT, kita ini sebenarnya mau rapat tujuh-belasan apa mau rapat jadi orang baik,to? Ini sudah jam sembilan malam,lho….mau rapat sampai jam berapa?”Tiba-tiba Pakde Mardun, sesepuh di kampung Ngisoran itu mengingatkan. Seluruh warga langsung melihat ke arah jam dinding.
“Tenang,pakde…Mau sampai jam berapapun,enggak masalah…Karena kita tetep percaya to bahwa Gusti Allah ora sare?” Kembali Kang Kojan membuat seluruh warga tetap semangat untuk rapat tujuh-belasan malam itu.

bekamind

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram