Lho, Salah Orang..

             Inilah kali pertamanya Kang Kojan mau dipaksa untuk mengikuti sebuah retret, karena sebagai seorang penceramah, ia sangat benci kalau diharuskan mendengarkan ceramah orang lain. Tapi kali ini ia menyerah, karena yang memintanya adalah Cindy seorang pengusaha wanita, cantik,kaya, dan satu lagi, dimana-mana wanita pengusaha ini selalu mengatakan bahwa Kang Kojan adalah kakaknya. Yang lebih membuat Kang Kojan tak berdaya menolak adalah biaya dan transportasinya, seluruhnya disediakan oleh Cindy.
“Ini positif, janjianya mau dijemput di sini?” Tanya mbak Tun,mulai gelisah nunggu jemputan.
“Tadi sopirnya sudah telpun aku, dan udah kukasih tahu warna mobil kita ini.”
            Tak beberapa lama, sebuah mobil mahal datang dan berhenti di seberang jalan, dan langsung membuka jendelanya. Kang Kojan langsung member isyarat agar mobil di seberang jalan itu mengikutinya menuju rumah. Sopir di seberang jalan itupun langsung mengacungkan jempolnya. Mbak tun terpukau melihat kemewahan mobil yang siap mengantarnya ke Bandungan, tempat ia retret.
“Wih, mobil kita jadi kuno ya,Kang…,”kata mbak Tun, masih sambil menengok ke belakang.
“Enggak apa-apa…asal orangnya tetep modern,”balas Kang Kojan singkat.
“Kang, pelan-pelan to…mbak Cindy khan susah ngikutin jalan kampung ke rumah kita.”
“Ya,depan itu khan sudah tikungan rumah kita,”Kata Kang Kojan sambil menunjuk tikungan di depannya. Begitu sampai tikungan,tiba-tiba telphonenya berbunyi. Sambil tetap menyetir, Kang Kojan mengangkat telephone.
“Hallo Kang Kojan…,”Suara Cindy di telephone menyapa.
“Eh,dik Cindy…ya beginilah jalan rumahku, tapi gerbang di depan itu sudah sampai,kok.”
“Lho, Kang Kojan sampai mana? Ini aku masih nunggu di samping SD.Don Bosco?”
“Sampai Don Bosco? Lho, mobil yang mengikuti aku ini siapa?”Kang Kojan Kaget.
“Lha enggak tahu….Ini aku masih nunggu di samping Don Bosco,”Cindy tak kalah kaget.
“Berhenti dulu aja ,Kang…,”Mbak Tun langsung memberi inisiatif instruksional. Kang Kojanpun langsung menghentikan mobilnya dan turun menuju mobil yang sedari tadi manut, menuruti komandonya.
“Lho,mas…sampeyan tadi janjian dengan siapa,to?” Tanya Kang Kojan kelihatan panik.
“Bapak yang pesan pembuatan sumur bor ke saya,khan?”
“Enggak…Saya tadi janjian dengan bu Cindy ketemuan di samping Don Bosco,”Kang Kojan mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini. Keduanya langsung meledak ketawanya. Mereka tahu, masing-masing sudah membuat “gambar orang lain” sesuai dengan pikiran mereka masing-masing.
“Saya tadi juga janjian di samping Don Bosco,pak,”Kata pengendara mobil itu.
“Ha…Ha…Ha…itulah pikiran koplak kita! Belum mempelajari kebenaran, sudah berani memastikan kebenarannya,” Sambung Kang Kojan terkekeh. Mereka berdua saling bersalaman, saling menyadari kebodohannya masing-masing. Mbak Tun segera menggandeng Kang Kojan untuk kembali ke mobilnya. Mereka akhirnya balik lagi menuju Don Bosco untuk menemu Cindy yang sudah menunggu di sana.
Sampeyan itu kalau mbuat janjian yang teliti,dong..,”Mbak Tun menggerutu.
“Lho aku sudah teliti lho,Tun..Tadi sopirnya tilpun janjian ketemu jam empat, di samping Don Bosco. Eee, ternyata bapaknya tadi juga janjian dengan seseorang di Don Bosco, juga jam empat,”Kang Kojan member alasan.
“Ya,harusnya ditanya juga, mobilnya apa..”mbak Tun tak mau kalah.
“Lho logikanya khan masuk akal to,Tun….kalau orang kaya seperti mbak Cindy, mobilnya pasti mobil yang bentuknya besar dan mahal seperti tadi,”balas kang Kojan, menalarkan alasannya kepada mbak Tun. Begitu sampai traffic light Don Bosco, mereka diam, kemudian perlahan-lahan mereka belok kiri dan berhenti tepat di depan baliho kampanye politik seorang calon walikota. Kang Kojan lalu mengangkat telephonya,menghubungi Cindy.
“Kamu posisi dimana, dik?”
“Lha ini di seberang jalan mobilmu,”Jawab Cindy di pesawat telephone.
Kang Kojan dan Mbak Tun langsung menengok ke seberang jalan, mendapati sebuah mobil BMW lawas,keluaran tahun 80an.Catnya sudah tidak kinclong lagi, bahkan cenderung terlihat sebagai mobil tua yang seharusnya sudah pensiun. Kang Kojan kelihatan sangat shock. Pikirannya berkecamuk, mana mungkin orang kaya kok mobilnya tidak prestisius?
“Lho, Tun…mobilnya kok cuma kayak gitu,ya?”celethuk Kojan pelan.
Mbak Tun yang melihat perilaku suaminya kebingungan ini langsung tersenyum. Gambar-gambar yang dibuat pikiran kadang meracuni seseorang, sehingga mengundang kekecewaan atau kemarahan yang besar.
“Walaah,Kang…Aku juga sering dibilangin seperti itu!” Jawab mbak Tun.
“Maksudmu?”
“Ibu-ibu yang baru kenal aku, setelah melihat Kang Kojan juga sering bilang seperti itu. Lho,Tun suamimu ternyata kok cuma seperti itu? Tak pikir kayak Ariel Peterpan,”Jawab Mbak Tun dengan tawa ringan. Kang Kojan tertawa kecil mendengar sindiran istrinya ini.
“Lagian siapa yang mengharuskan orang kaya mobilnya harus mewah?” sambung mbak Tun.
“Wah,lama-lama kok kamu lebih pinter daripada aku,yaa….” Kang Kojan membalas dengan tawa renyah.
“Nah, lagi-lagi sampeyan membuat gambarku selalu kalah pinter sama sampeyan,to?”
“Ha..Ha..Ha…Wis, untuk kali ini aku kalah total sama kamu,Tun,” Jawab Kang Kojan seraya memutar mobilnya mendekati mobil mbak Cindy di seberang jalan.
            Janjian yang menggelikan ini membuat Kang Kojan menyadari, bagaimana pikiran ini sering membuat gambar-gambar semaunya sendiri. Untung Mbak Tun yang waktu itu pikirannya kosong, bisa membaca “gambar salah” dalam pikiran kang Kojan.

bekamind

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram