“Ini positif, janjianya mau dijemput di sini?” Tanya mbak
Tun,mulai gelisah nunggu jemputan.
“Tadi sopirnya sudah telpun aku, dan udah kukasih tahu warna mobil kita
ini.”
Tak beberapa lama,
sebuah mobil mahal datang dan berhenti di seberang jalan, dan langsung membuka
jendelanya. Kang Kojan langsung member isyarat agar mobil di seberang jalan itu
mengikutinya menuju rumah. Sopir di seberang jalan itupun langsung mengacungkan
jempolnya. Mbak tun terpukau melihat kemewahan mobil yang siap mengantarnya ke
Bandungan, tempat ia retret.
“Wih, mobil kita jadi kuno ya,Kang…,”kata mbak Tun, masih sambil
menengok ke belakang.
“Enggak apa-apa…asal orangnya tetep modern,”balas Kang Kojan singkat.
“Kang, pelan-pelan to…mbak Cindy khan susah ngikutin jalan kampung ke
rumah kita.”
“Ya,depan itu khan sudah tikungan rumah kita,”Kata Kang Kojan sambil
menunjuk tikungan di depannya. Begitu sampai tikungan,tiba-tiba telphonenya
berbunyi. Sambil tetap menyetir, Kang Kojan mengangkat telephone.
“Hallo Kang
Kojan…,”Suara Cindy di telephone menyapa.
“Eh,dik Cindy…ya
beginilah jalan rumahku, tapi gerbang di depan itu sudah sampai,kok.”
“Lho, Kang Kojan sampai mana? Ini aku masih nunggu di samping SD.Don
Bosco?”
“Sampai Don Bosco? Lho, mobil yang mengikuti aku ini siapa?”Kang Kojan
Kaget.
“Lha enggak tahu….Ini aku masih nunggu di samping Don Bosco,”Cindy tak
kalah kaget.
“Berhenti dulu aja ,Kang…,”Mbak Tun langsung memberi inisiatif
instruksional. Kang Kojanpun langsung menghentikan mobilnya dan turun menuju
mobil yang sedari tadi manut,
menuruti komandonya.
“Lho,mas…sampeyan tadi janjian dengan siapa,to?” Tanya
Kang Kojan kelihatan panik.
“Bapak yang pesan
pembuatan sumur bor ke saya,khan?”
“Enggak…Saya tadi
janjian dengan bu Cindy ketemuan di samping Don Bosco,”Kang Kojan mencoba
menjelaskan kesalahpahaman ini. Keduanya langsung meledak ketawanya. Mereka
tahu, masing-masing sudah membuat “gambar orang lain” sesuai dengan pikiran
mereka masing-masing.
“Saya tadi juga
janjian di samping Don Bosco,pak,”Kata pengendara mobil itu.
“Ha…Ha…Ha…itulah
pikiran koplak kita! Belum mempelajari
kebenaran, sudah berani memastikan kebenarannya,” Sambung Kang Kojan terkekeh.
Mereka berdua saling bersalaman, saling menyadari kebodohannya masing-masing.
Mbak Tun segera menggandeng Kang Kojan untuk kembali ke mobilnya. Mereka
akhirnya balik lagi menuju Don Bosco untuk menemu Cindy yang sudah menunggu di
sana.
“Sampeyan itu kalau mbuat janjian yang teliti,dong..,”Mbak Tun
menggerutu.
“Lho aku sudah teliti
lho,Tun..Tadi sopirnya tilpun janjian ketemu jam empat, di samping Don Bosco. Eee,
ternyata bapaknya tadi juga janjian dengan seseorang di Don Bosco, juga jam
empat,”Kang Kojan member alasan.
“Ya,harusnya ditanya
juga, mobilnya apa..”mbak Tun tak mau kalah.
“Lho logikanya khan
masuk akal to,Tun….kalau orang kaya seperti mbak Cindy, mobilnya pasti mobil
yang bentuknya besar dan mahal seperti tadi,”balas kang Kojan, menalarkan
alasannya kepada mbak Tun. Begitu sampai traffic
light Don Bosco, mereka diam, kemudian perlahan-lahan mereka belok kiri dan
berhenti tepat di depan baliho kampanye politik seorang calon walikota. Kang
Kojan lalu mengangkat telephonya,menghubungi Cindy.
“Kamu posisi dimana,
dik?”
“Lha ini di seberang
jalan mobilmu,”Jawab Cindy di pesawat telephone.
Kang Kojan dan Mbak
Tun langsung menengok ke seberang jalan, mendapati sebuah mobil BMW
lawas,keluaran tahun 80an.Catnya sudah tidak kinclong lagi, bahkan cenderung terlihat sebagai mobil tua yang
seharusnya sudah pensiun. Kang Kojan kelihatan sangat shock. Pikirannya berkecamuk, mana mungkin orang kaya kok mobilnya
tidak prestisius?
“Lho, Tun…mobilnya kok
cuma kayak gitu,ya?”celethuk Kojan pelan.
Mbak Tun yang melihat
perilaku suaminya kebingungan ini langsung tersenyum. Gambar-gambar yang dibuat
pikiran kadang meracuni seseorang, sehingga mengundang kekecewaan atau
kemarahan yang besar.
“Walaah,Kang…Aku juga sering dibilangin seperti itu!” Jawab mbak Tun.
“Maksudmu?”
“Ibu-ibu yang baru kenal aku, setelah melihat Kang Kojan juga sering
bilang seperti itu. Lho,Tun suamimu ternyata kok cuma seperti itu? Tak pikir
kayak Ariel Peterpan,”Jawab Mbak Tun dengan tawa ringan. Kang Kojan tertawa
kecil mendengar sindiran istrinya ini.
“Lagian siapa yang mengharuskan orang kaya mobilnya harus mewah?”
sambung mbak Tun.
“Wah,lama-lama kok kamu lebih pinter daripada aku,yaa….” Kang Kojan membalas dengan tawa
renyah.
“Nah, lagi-lagi sampeyan membuat gambarku selalu kalah
pinter sama sampeyan,to?”
“Ha..Ha..Ha…Wis, untuk kali ini aku kalah total sama
kamu,Tun,” Jawab Kang Kojan seraya memutar mobilnya mendekati mobil mbak Cindy
di seberang jalan.
Janjian yang menggelikan ini membuat
Kang Kojan menyadari, bagaimana pikiran ini sering membuat gambar-gambar
semaunya sendiri. Untung Mbak Tun yang waktu itu pikirannya kosong, bisa
membaca “gambar salah” dalam pikiran kang Kojan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar