Ruang sekretariat di sebuah asosiasi bisnis di Semarang yang biasanya tenang, pagi itu terlihat heboh. Penyebabnya sederhana, sebuah undangan kawinan dari Menuk, sekretaris eksekutif asosiasi, yang selama ini dikenal sebagai wanita beranak satu tapi masih muda, seksi,dan lumayan cantik. Antara percaya dan tidak, akhirnya seluruh anggota asosiasi berbaur bareng dengan pekerja secretariat saling menanyakan kebenarannya, termasuk Kang Kojan. Komentar heran hingga pergunjinganpun mulai muncul setelah mereka baru tahu bahwa Menuk selama ini adalah janda muda!
“Wah,pantesan selama ini pakaiannya selalu seksi, enggak tahunya emang
lagi cari sasaran,to,”ujar mbak Parni, pekerja paling senior, yang juga selalu
dandan menor di kantor.
“Lha sampeyan kalau berpakaian juga sexy gitu kok…berarti ada yang
disasar,to?”Balas pak Kondang, pengusaha resto yang punya dua istri. Mbak Parni
hanya cemberut, sambil nunduk.
“Pak Kondang, kalau sampeyan udah tahu dari dulu bahwa mbak Menuk itu
janda muda, kira-kira apa yang sampeyan lakukan?”Pak Mujirin yang dari tadi
cuma diam mulai iseng nimbrung.
“Ya kalau tahu Menuk itu statusnya janda muda, tanganku bukan hanya
mencubit tangannya saja, tapi ke bagian-bagian lain…,”Jawab pak Kondang sambil
nyengir genit, yang disambut tawa riuh dari seluruh pekerja di sekretariat itu.
“Kalau pak Mujirin mau ngapain?” pak Kondang balik bertanya.
“Kalau aku? Kalau aku ya bukan cuma pura-pura cipika-cipiki, tapi tak
sosor beneran…”Jawab pak Mujirin sambil tergelak, yang diikuti oleh gelak tawa
yang lainnya. Tiba-tiba tawa mereka berhenti, karena melihat Kang Kojan masih
saja asyik di depan komputernya.
“Lha kalau sampeyan mbayangin apa,Kang Kojan?”Tanya pak Kondang dengan
nafsu.
“Kalau aku kok malah mbayangin istri muda sampeyan ya,pak..,”Jawab Kojan
sembari menatap dalam-dalam wajah pak Kondang. Bagai petir di siang hari, pak
Kondang benar-benar tidak mengira kalau rekannya ini akan menjawab seperti itu.
“Maksud sampeyan apa?”tanya pak Kondang mulai emosi.
“ya, sama dengan sampeyan-sampeyan tadi…aku sudah nyoba mbayangin Menuk,
tapi yang keluar malah bayangan istri muda sampeyan, gimana pak?” Kali ini
Kojan malah menjawab dengan cengengesan.
“Kang, kalau membayangkan istriku,dengan khayalan yang macem-macem, sama
dengan sampeyan menginjak-injak harga diri saya lho,”pak Kondang mulai bernada
mengintimidasi.
“Rasanya gimana,pak Kondang kalau istri sampeyan dibayangin dan
diomongin yang macem-macem kayak gitu? Jengkel ya..atau malah marah?” Kojan
menanyai pak Kondang santai.
“Ya,jelas dong…lelaki mana yang tidak marah, tubuh istrinya dikhayalkan
macem-macem oleh pria lain?”
“Nah,sekarang pak Kondang tahu…bagaimana perasaannya kalau tubuh
istrinya dikhayalkan oleh lelaki lain dengan khayalan-khayalan yang bersifat
perzinahan,”papar Kojan.
Kali ini seisi ruangan
diam. Pak Kondang benar-benar seperfti terkunci mulutnya. Dalam forum bisnis
dimanapun, ia selalu punya argument untuk mendebat, tapi kali ini ia
benar-benar susah bicara. Emosinyapun turun, gara-gara apa yang dijelaskan
Kojan adalah kebenaran yang ia rasakan saat ini.
“Sampeyan-sampeyan ini ya aneh…baru ditambahi embel-embel “janda muda”,
pikiran sampeyan langsung bereaksi ke pertubuhannya Menuk, bukan lagi ke cara
kerjanya Menuk selama di sekretariat. Imajinasi sampeyan langsung menjelajah
seluruh bagian tubuh Menuk yang selama ini sampeyan abaikan,” Kang Kojan
gentian yang mulai emosi melihat tingkah para lelaki pengusaha yang dimana-mana
dihormati, tetapi ternyata pikiranya hanya terdampar di aspek pertubuhan
wanita.
“Saya khilaf, Kang…” Kata pak Mujirin sedikit malu.
“Tapi normal to,Kang, kalau
lelaki melihat wanita seksi seperti Menuk, terus begitu…”
“Maksudnya “terus begitu” itu apa, pak Kondang?”Tanya Kojan tambah
jengkel.
“Maksud saya terus kebelet untuk njawil,
ngelus, nyubit..,”jawab pak Kondang pelan.
“Lho kebelet itu normal. Tapi yang membedakan kita dengan kucing,
anjing, dan wedhus itu khan terletak pada kemampuan kita menahan diri. Enggak
kebelet langsung lampiaskan, walau itu baru lewat elusan atau cubitan…Kita
harus sadar tadi, bagaimana perasaan suaminya kalau tahu istrinya dielus atau
dicubit pria lain. Sampeyan baru dikhayalkan aja sudah tersinggung, apalagi
kalau sampai istri muda sampeyan dielus dan dicubit, bisa ngamuk ra’ karuan..bener to, pak ?”
Kali ini pak Kondang
benar-benar KO. Ia baru bisa merasakan tepo sliro, bagaimana belajar memahami
perasaan orang lain, dari kata-kata Kang Kojan kali ini. Saat itu Kang Kojan
benar-benar seperti seorang Walikota yang sedang menyidang anak buahnya, karena
semua diam. Belum sempat ada yang menjawab, tiba-tiba Menuk masuk ruangan
dengan keceriaannya. Ia seperti biasanya mengenakan pakaian ketat yang sexy.
“Selamat siang semuaa….”sapa Menuk
“Selamat siang,
Nuk………” jawab seisi ruangan, sambil kemudian menyalaminya satu persatu. Kang
Kojan paling akhir disalami Menuk, karena wanita ini paling sering curhat ke
Kang Kojan,yang selama ini dianggap jagoan dalam soal masalah keluarga.
“Makasih
ya,Kang…berkat nasehat sampeyan, akhirnya aku ketemu dengan pria yang
benar-benar layak jadi suamiku,”kata Menuk sambil menggenggam tangan Kang
Kojang erat.
“Jadi selama ini kamu
merahasiakan ke aku,kalau kamu itu janda to,Nuk?”Tanya Kang Kojan serius. Menuk
hanya tersenyum manja,seolah mengiyakan pertanyaan Kang Kojan. Tanpa menunggu
komentar dan nasehat dari Kang Kojan, Menuk langsung menuju ke ruang ketua
asosiasi itu. Dari jauh Kang Kojan melihat lenggak-lenggok cara berjalannya
Menuk dengan pakaian seksinya.
“Woalaaah…..hampir
saja aku Nafsu! Untung aku punya senjata yang memagari, walaupun sangat rapuh :
keinginan untuk terlihat baik,”batin Kang Kojan tertawa ngakak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar