KETIBAN DURIAN UTUH


    Habis mandi tiba-tiba, pintu rumah Kang Kojan diketuk tamu. Kali ini Pekerti yang buru-buru membukakan pintu. Seperti anak kecil lainnya, tamu selalu identik dengan oleh-oleh. Jadi kesigapan Pekerti membukakan pintu adalah buat ngecek, apakah tamunya bawa oleh-oleh atau tidak. Bagai melihat petir di malam hari, Pekerti kaget tapi bermuatan girang bukan kepalang. Ia langsung bukakan pintu.
“Ini rumahnya Kang Kojan, ya dik?”
“Betul pak, tunggu sebentar”Jawab Pekerti, langsung buru-buru ke dalam setelah menjawab.
“Pak, ada tamu dahsyat!”
“Tamu dahsyat? Maksudmu?” Kang Kojan heran melihat tingkah Pekerti.
“Tamunya bawa duren buaaaanyaaak banget, pak!”Jawab Pekerti sumringah.
“Duren, banyak?” Mbak Tun nyahut dari ruang tengah. Wajahnya terlihat serupa dengan ekspresi Pekerti.
Kang Kojan keluar, diikuti oleh anak dan istrinya.
“Assalamualaikum, Kang Kojan…”
“Waalaikumsalam”
“Kang…..Saya Kasirun. Saya disuruh Haji Kohar, untuk mengirimkan duren-duren ini buat sampeyan, sebagai bayaran atas ceramah sampeyan di Jepara tadi siang,” tamunya mulai menjelaskan maksud kedatangannya.
“Lho, tadi khan saya sudah sampaikan ke Haji Kohar, mas… Saya ini asam urat dan darah tinggi, jadi jelas-jelas, saya tidak makan duren.” Jawab Kang Kojan, dengan suara agak tinggi, tanpa mempersilakan tamunya duduk.
“Pesan Haji Kohar, kalau Kang Kojan enggak makan duren, bisa diberikan untuk putera dan istri Kang Kojan.” jawab Kasirun, sedikit ngeyel.
“Lagian, kasihan saya to, Kang, kalau harus bawa duren sebanyak ini pulang…”
Mata Kang Kojan terbelalak melihat 15 durian yang sudah tergeletak di luar ruang tamu rumahnya. Buah durian adalah buah kesukaan Kang Kojan, namun semenjak ia terkena darah tinggi dan asam urat, ia sama sekali tidak berani menyentuh buah yang satu ini.
“Kamu pengin anak dan istriku mabuk duren?” Balas Kang Kojan.
“Udahlah, pak, ya ini yang namanya keruntuhan durian utuh ” tiba-tiba Pekerti menggelendot di pinggangnya, memberi isyarat agar bapaknya menerima durian-durian itu.
“Hush! Kamu diam dulu,to.” Balas Kang Kojan
“Langsung saya masukan ke dalam ya, Kang?” sergah Kasirun.
“Kalau saya tolak?” Kang Kojan balik bertanya.
“Ya berarti saya dipecat Haji Kohar!” jawab Kasirun dengan lemas.
Semprul!” gumam Kang Kojan lirih. Ia benar-benar jengkel, tapi kali ini ia dalam dilema besar. Sebenarnya Ia mengharapkan honornya berupa uang, yang bisa buat nambah beli tab yang buatan Cina. Penginnya, ia menolak secara tegas, sekaligus menunjukkan kapasitasnya kepada Haji Kohar bahwa ia adalah pakar, ahli, yang pengalamannya segudang. Mosok, ahli kok dibayar durian. Di sisi lain, ia juga kasihan kalau akibat egonya ini Kasirun harus dipecat.
“Jadi, honor keilmuanku, kerja kerasku, tetesan keringatku, hanya dibayar dengan duren?” Sekali lagi Kang Kojan menunjukkan kejengkelannya.
“Kalau itu khan urusan Kang Kojan sama Haji Kohar. Saya ini cuma tukang kirim,Kang!”
“Ini artinya, aku yang kerja, tapi orang lain yang menikmatinya?” suara Kang Kojan melirih, tapi tetap dengan muatan jengkel.
“Lha tapi istri dan anak Kang Kojan khan bisa menikmatinya.” Debat Kasirun, sedikit bergaya.
“Lha terus aku menikmati apa?”Kang Kojan bertanya lagi.
 “Menikmati kebahagiaan melihat anak dan istri menikmati kelezatan duren petruk!” Jawab Kasirun berlagak bijak. Ia tahu Kang Kojan mulai bimbang.
“Ya sudah, aku terima duren-duren ini sebagai upahku…,” Kata Kang Kojan lemas. Pekerti langsung berjingkrak, Mbak Tun cuma tersenyum kecil.
            Sebenarnya Mbak Tun sangat bangga dengan apa yang diputuskan suaminya. Sedari pagi Kang Kojan ceramah, tanpa diberi honor, tanpa diberi konsumsi, tanpa diberi uang transportasi, tetapi suaminya berjuang untuk iklas melakoninya. Lebih konyol lagi, orang yang mengundangnya ceramah, membayar jerih payahnya bukan dengan uang tetapi dengan durian, buah yang Kang Kojan sama sekali tidak bisa menikmatinya. Mbak Tun tahu betul bahwa Kang Kojan memang sedang butuh uang, buat nomboki pembelian tab, sebuah perangkat  IT, yang selama ini diidam-idamkannya.
“Kang, sebenarnya alasan apa yang membuat sampeyan akhirnya menerima duren-duren tadi?” Tanya mbak Tun pelan.
“Ya, demi kamu dan Pekerti, demi Kasirun dan juga untuk tetangga di sekitar kita.”
“Lha tapi, ini khan tidak sesuai dengan keinginan Kang Kojan? Sampeyan khan pengin beli tab?”
“Betul,Tun…tadi ya sempat jengkel juga, tapi kalau aku mengikuti kejengkelanku, maka dampaknya bisa panjang. Kasirun dipecat. Pekerti kecewa karena enggak jadi makan duren..dan  Kang Haji Kohar bisa kecewa besar.” Jawab Kang Kojan mulai terlihat bijak.
“Tapi khan sampeyan enggak jadi beli tab…”

“Tidak semua keinginan harus kita lampiaskan jadi kenyataan,Tun. Tiap manusia punya jatah ruang dan waktu yang diberikan oleh Gusti Allah, sesuai dengan amal dan perbuatannya. Jadi yang penting, bagaimana mau belajar memahami apa yang kita alami, meski tidak sesuai dengan keinginan kita, Tun,” Kang Kojan menjelaskan sambil menahan air liur, melihat duren yang dimakan Pekerti. Inilah yang namanya ketiban durian utuh. “Cuma ketiban, tapi nggak ngrasain kelezatannya,” gumam Kang Kojan.

bekamind

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram