Tahun baru dan Natalan kali ini
membuat kejengkelan tersendiri bagi Kang Kojan. Waktu natalan dengan
kerabatnya, Kang Kojan ketemu kakaknya, yang paling dituakan. Gaya orang Solo
dan Jogja kalau mau nyombong, yang keluar adalah kata-kata merendah namun
ujung-ujungnya ingin orang lain mengakui kehebatannya. Untuk menunjukkan
kehebatannya secara akademis, orang Solo atau Jogja cukup mengatakan, wah, diantara pembicara yang tampil kemarin,
sayalah yang cuma lulusan SMA, yang lain doktor dan lulusan luar negri
semua.Tapi begitu selesai ceramah, yang ngrubung dimintai tanda-tangan malah
saya…sebenarnya saya enggak enak sama doctor-doktor tadi. Untuk menunjukkan
kekayaannya, mereka juga seolah-olah merendah di awalnya, Saya ini sebenarnya buruh bukan juragan, maklum cuma lulusan SMA. Tapi
untungnya saya ini bejo. Sekarang ini saya sudah membuatkan rumah untuk kelima
anak saya. Menyekolahkan mereka sampai S2, dan kebetulan di luar negri semua.
Kang Kojan mengalami gaya-gaya
kesombongan ini dari kerabatnya di Solo. Kang Kojan tahu betul respon apa yang
diharapkan mereka.
“Kita harus
menggeleng-gelengkan kepala, menatap dengan pandangan nggumun (heran), sambil kadang-kadang mengeluarkan suara kayak
seekor cecak…ck..ck..ck,” Kang Kojan menjelaskan kepada Mbak Tun perihal
bagaimana cara menghadapi orang yang sedang menyombongkan diri. Pasalnya,
kesombongan ini bukan hanya ditemui saat ia berkumpul dengan kerabatnya, tetapi
juga ketika ketemu dengan pemuka-pemuka agama di lingkungannya.
“Wah,berarti aku tadi
betul ya,Kang…waktu pak Kendro sedang asyik menyombongkan diri tadi,”balas mbak
Tun dengan wajah ceria.
“Lho memang pak Kendro
bilang apa?”
“ Dia bilang, bahwa
yang dia sampaikan adalah bahasa ilahi,karena ia sudah hafal betul kitab suci
yang ia baca selama 20 tahun,”Jawab mbak Tun.
“Lho kesombongannya
dimana?” Tanya Kang Kojan lagi.
“Dia mengatakan bahwa kami-kami
ini belum nyampek..”
“Maksudnya belum
nyampek?”
“Tataran warga yang
hadir tadi dianggap terlalu rendah, karena masih memakai logika.”
Pekerti yang ada di luar makan,
mendengar keasyikan pembicaraan kedua orang tuanya, beranjak dari tempat
duduknya, dan mulai ikut nimbrung.
“Tadi di sekolah aku
juga dibuat jengkel oleh Kirun,pak.”
“Lha piye to?”naluri keibuan mbak Tun segera nyahut bertanya.
“ Dia tadi cerita
kalau bapaknya baru beli tablet…”
“ Lho sakit apa,to?”
“ Ndeso! Tablet ini kayak komputer,tapi tinggal nyentuh layarnya lalu
gambarnya berubah..” Pekerti ngedumel
mendengar selaan ibunya. Kang Kojan tersenyum melihat dialog keduanya ini.
“ Ooo…yang bapakmu
pengin itu,ya?”
“ Iya,iyaaa…”Pekerti
mulai males melanjutkan ceritanya.
“ Udah to,le, yang
sabar…ayo lanjutkan ceritamu.”nasihat Kang Kojan ke Pekerti.
“Nah, waktu aku tanya
cara menggunakannya gimana, eee…Kirun langsung menjawab,kalau tablet itu bukan
untuk wong ndeso. Jadi mbok
diterangin kayak apa, aku pasti enggak tahu. sombong banget,ya pak..”keluh
Pekerti dengan wajah cemberut.
“Wah,ini yang namanya
sombong menyambung menjadi satu, itulah Indonesia..”Balas Kang Kojan sambil
bergurau,memancing agar Pekerti tidak jengkel. Tapi dugaannya kali ini meleset,
Pekerti merasa lebih jengkel, gara-gara kejengkelannya tidak diapresiasi dengan
kejengkelan juga. Perlahan-lahan, Kang Kojan mulai memahami situasi ini, ia
langsung melanjutkan kata-katanya lagi.
“ Tun, dan kamu
Pekerti…Jawab pertanyaan bapak dengan jujur!”
Mbak Tun dan Pekerti
tidak mengeluarkan kata, hanya mengangguk lemah.
“ Waktu bapak melihat
pakdemu menyombongkan diri, pakde melihat wajah yang gembira dengan tubuh yang
tegak dan kokoh. Apakah kalian juga melihat hal yang sama?”tanya Kang Kojan
serius. Mbak Tun dan Pekerti saling berpandangan, keduanya mengangguk
bersamaan.
“Jawab yang
jujur,lho…kalau tidak sama, katakan tidak!”Kang Kojan meminta kejujuran mereka.
“Sama,pak..!”Jawab
Pekerti tegas.
“Waktu kita
menyaksikan kesombongan yang mereka pamerkan, kita merasa muak,merasa
jengkel,dan merasa marah..betul?” Tanya Kang Kojan lagi.
“Betul,pak!”Jawab
Pekerti yang diikuti oleh anggukan kepala mbak Tun.
“Habis itu, seluruh
perasaan, seluruh anggota tubuh kita menjadi tidak enak..persis seperti orang
habis KO dari pertandingan tinju…betul?”Tanya Kang Kojan lagi. Kembali mbak Tun
dan Pekerti mengangguk bersamaan.
“Apakah setelah kita
jengkel, kita marah, seluruh tubuh kita terasa tidak enak, membuat pakdemu, pak
Kendro dan Kirun berubah menjadi rendah hati?”sambung Kang Kojan. Mbak Tun dan
Pekerti menggelengkan kepala.
“Jadi,jangan mau
disusahkan oleh orang-orang sombong. Kita harus tetap gembira,pasang posisi tubuh
yang kokoh, dan nyaringkan suara kita…..mari kita nyanyikan bersama, Sombong menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…”mereka
tertawa,menyanyikan lagu plesetan dari kesombongan.
wkkkk, lutju tenan kie..., ternyata aq ini masih sombong jugaa....
BalasHapus@danang : baru sadar ya mas, ternyata kita sering tidak sadar melakukan kesombongan :D
Hapus